PENGEMBARAAN CAVING

CAVING DAN PERKEMBANGANNYA

PERKENALAN SPELEOLOGI

Ilmu SPELEOLOGI adalah ilimu yang mempelajari GUA dan LINGKUNGANNYA. Hingga kini EDWARD ALFRED MARTEL disebut sebagai Bapak Speleologi. Di Indonesia speleologi relatif masih muda dibandingkan dengan ilmu yang lain. Dan juga dengan kegiatan petualangan yang lain, seperti panjat tebing, mountaineering, dan sebagainya. Speleologi baru berkembang sekitar tahun 1980, dengan sebuah club yang bernama SPECAVINA, yang didirikan oleh Norman Edwin (Alm) dan dr. R.K.T Ko . Namun karena perbedaan prinsip dari keduanya maka terpecah menjadi himpunan yang berbeda aliran.

  1. Norman Edwin mendirikan klub yang diberi nama GARBA BUMI
  2. Dr. R.K.T Ko pada tahun 1984 mendirikan Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI)

Kegiatan alam bebas dalam speleologi

  1. Mountaineering : Trekking, Packing, Peta Kompas, Pelacakan mulut gua
  2. Panjat Tebing : Climbing in the dark, Rigging, Traversing, free climbing (scrambling, chimneying, bridging, squeezing, laddering, mantleselving)
  3. Arung Jeram : Black water rafting, Canoeing.
  4. Swimming, Diving (Cave Diving)
  5. Gantole, Paragliding : pelacakan mulut luweng/gua dari udara
  6. Canyoing : rapeling dari air terjun
  7. Vertical Rescue : self rescue, tim rescue
  • Bentukan-Bentukan Genetis Gua (Speleotem)

Bentukan genetis gua dapat terjadi karena fenomena alam yang ada saat rekahan-rekahan yang terjadi pada kawasan karst/ gerakan air. Secara pokok proses terjadinya speleotem ini dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. karena aliran air, contoh :
    • Bourdam (seperti petak-petak sawah)
    • Draperies (seperti korden / tirai)
  2. karena tetesan air, contoh :
    • Stalagtit
    • Stalagmit
    • Pilar
    • Cave Helekit
    • Soda Straw Stalagtite
    • Oolite, dll.

Perlu kita ketahui bersama bahwa proses terbentuknya Speleotem membutuhkan waktu yang sangat lama dan dapat mencapai kurun waktu ribuan tahun. Untuk itu setipa kerusakan yang terjadi  merupakan kesalahan yang tidak dapat ditebus dengan apapun untuk memperbaikinya.

  • Pemintakatan Gua

Berdasarkan atas intensitas cahaya, morfologi gua dan kedalamannya, gua dibagi menjadi empat mintakat ( zona ) :

  • Zona Terang ( mulut gua )
  • Zona Senja : Twilight Zona
  • Zona remang
  • Suhu berfluktuasi
  • Zona peralihan
  • Gelap
  • Suhu berfluktuasi
  • Zona Gelap abadi
  • Gelap total
  • Suhu konstan
  • Kelembaban konstan

BAHAYA PENELUSURAN GUA

Dalam kegiatan speleologi dan penelusuran gua bahaya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

  1. ANTHROPOSENTRISME
  2. SPELEOSENTRISME

Anthroposentrisme adalah bahay yang dapat menimpa manusia sebagai pelaku kegiatan penelusuran gua, terbagi lagi menjadi bahaya yang disebabkan oleh manusia itu sendiri dan bahaya yang disebabkan oleh gua sebagai media kegiatan penelusuran.

Beberapa bahaya dari sisi Anthroposentrisme ini adalah :

  1. Faktor Manusia
    1. ceroboh, sembrono, nekad
    2. tersesat
    3. tenggelam
    4. salah dalam pembagian tim penelusuran
  2. Faktor Peralatan
    1. berkurangnya kualitas peralatan
    2. penggunaan tidak semestinya
    3. beban berlebihan
    4. penyusutan tidak terkontrol
  3. Faktor Gua dan Alam
    1. banjir, tenggelam, arus deras, sump, siphon, lumpur dalam, lumpur hisap
    2. runtuh
    3. gas berbahaya
    4. penyakit akibat virus
    5. binatang berbahaya
    6. tanaman berbahaya (jelatang, kemadoh, lugut/aur/duri halus, dll)
    7. air mengandung bakteri coli
    8. hipothermia (kedinginan, penuruna suhu tubuh)
    9. dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)
    10. debu halus (batuk, sakit mata, pernafasan terganggu)
    11. tersambar petir (di permukaan di dalam melalui aliran air)
    12. terkena aliran listrik (lampu, genset, pompa air)
    13. mistis, legenda mitos (bahaya sekunder)

Speleosentrisme adalah bahaya yang yang dapat menimpa gua akibat dipergunakan sebagai media penelusuran gua.

  1. Pengaruh terhadap bentukan di dalam gua.
    1. Pengotoran lingkungan gua (vandalisme, sampah, aroma tak sedap)
    2. Perusakan ornamen gua
    3. Perusakan oleh penambangan di dalam gua
    4. Perusakan sistem hidrologi dan kualitas airnya
    5. Pembuatan bangunan dengan desain overkill
  2. Pengaruh terhadap ekosistem gua (akibat kunjungan berlebihan, suara berlebihan, cahaya berlebihan, kotoran dari luar masuk ke dalam gua)
  3. Pengaruh terhadap ekosistem karst
    1. Pengaruh ledakan populasi hama akibat terganggunya biota gua (walet, sriti, kelelawar)
    2. Binatang langka terusik dari gua (harimau, serigala, dll)
  • Tanda – Tanda Jumlah Oksigen / Kadar Gua :
    • 20 %     : udara normal
    • 16 %      : lilin tak menyala
    • 15 %      : pada raut muka, gejala hipoksia
    • 12 %      :  hipoksia serius
    • 8-10 % : lampu karbit tak menyala
    • 7-8 %   : kesadaran menurun drastis disertai kematian

RIGGING

Rigging adalah teknik pemasangan tali baik vertikal, horizontal maupun lintasan untuk rescue. Pemasangan lintasan ini harus selalu memperhatikan beberapa syarat agar disebut sebagai rigging yang baik. Syarat tersebut antara lain :

  1. Aman dilewati oleh semua anggota tim
  2. Tidak merusak peralatan
  3. Dapat dilewati oleh semua anggota tim
  4. Siap digunakan untuk keadaan emergensi
  • Anchor

Anchor adalah poin atau obyek yang akan dijadikan tambatan. Dalam pemilihan ancor  perlu adanya beberapa perhitungana antara lain :

  1. Jenis tambatan
  2. Posisi tambatan
  3. Kekuatan tambatan

Berdasarkan jenisnya, anchor dibedakan menjadi :

  1. Natural Anchor
  1. pohon
  2. lubang tembus
  3. rekahan
  4. chock stone
  5. tanduk ( horn )
  6. ornamen
  1. Anchor Buatan

Berdasarkan posisi dan urutan penerimaan beban, maka anchor dibagi atas :

  1. Main Anchor ( anchor utama )
  2. Back-up

Penempatan posisi back-up harus tetap memperhatikan keamanan tali dari friksi dan kerusakan lainnya ketika main anchor jebol.

  • Fall Factor

Fall Factor adalah beban hentakan yang diterima oleh tali, back-up anchor, maupun penelusur ketika main anchor terlepas dan jebol.

  • Teknik Pemasangan Anchor
  • Anchor

Adalah anchor yang berbentuk “ Y “ dimana ada dua anchor yang selalu dibebani bersama.

  • Intermediet Anchor

Prinsip kerja anchor ini adalah dengan membuat anchor tambahan pada titik friksi atau pada posisi yang lain yang lebih tinggi yang menjauhi titik friksi, kekuatan anchor ini juga harus dipilih untuk beban vertikal.

  • Deviation Anchor

Anchor ini menghilangkan friksi dengan cara menarik arah lintasan tali ke arah luar dari titik friksinya.

  • Manajemen Rigging

Selain kemampuan personal dalam teknik pemasangan  lintasan, diperlukan pula suatu pengaturan kerja di dalamnya, antara lain

  • Organisasi

Dalam setiap kegiatan rigging minimal dilakukan oleh dua orang, yaitu

  1. Rigging Man (Rm) adalah orang yang bertugas memasang lintasan utama, orang ini selalu bertanggung jawab atas keamanan dan kekuatan lintasan yang telah dipasang. Rm ini harus benar-benar menguasai teknik vertikal ( SRT, climbing, rescue, dll ), teknik rigging, peralatan dan jam terbang yang cukup.
  2. Asisten Rigging (Ar) adalah orang yang bertugas membantu Rigging Man untuk menyiapkan peralatan rigging yang dibutuhkan dan memastikan keamanan rigging man dengan melakukan belaying.

PENGENALAN PERALATAN

  1. Personal Equipment
    1. helm (lentur dan kuat, ringan, konstruksi pengikat, mempunyai lubang sirkulasi)
    2. penerangan (elektrik, karbit, dll)
    3. Sepatu boot
    4. Over All
    5. kaos tangan
    6. pelampung
    7. SRT set ( dibahas pada materi TPGV )
  2. Team Equipment
    1. Kernmantle
    2. Webbing
    3. Carabiner (screw gate dan non screw gate)
    4. Tackle bag (equipment dan rope tackle bag)
    5. pelindung tali ( jerry protector dan mat protector )
    6. pulley ( katrol )
    7. anchor

TEKNIK PENELUSURAN GUA VERTIKAL (TPGV)

  • Single Rope Technique (SRT)

Single Rope Technique yaitu teknik untuk melintasi lintasan vertikal yang berupa satu linatasan tali. Teknik ini dalam kegiatan caving biasa digunakan untuk penelusuran gua-gua vertikal dengan segala variasi lintasan yang disesuaikan dengan kondisi medan. Keselamatan dan kenyamanan (safety procedure) adalah prinsip utama dalam teknik ini. Menghitung jumlah peralatan yang mengamankan penelusur pada saat melewati berbagi macam bentuk lintasan adalah hal yang utama.

Peralatan

Peralatan yang digunakan nantinya  akan menjadi satu kesatuan yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri dan saling mendukung. Kenali tiap jenis alat, cara kerja, dan fungsinya terlebih dahulu. Hal ini akan sangat membantu kita dalam penguasaan teknik ini.

Peralatan yang digunakan :

1.Seat Harness, digunakan untuk mengikat tubuh yang dipasang pada pinggang dan kaki.

2.Ascender, peralatan ini digunakan untuk naik atau memanjat lintasan ( tali ). Ascender dibedakan menjadi :

Hand Ascender : digunakan dengan dipegang di tangan

Chest Ascender : digunakan dengan ditempelkandi dada, macamnya : Croll, Basic  , Shunt, Gibbs

3.Descender, digunakan untuk menuruni lintasan (tali). Ada banyak macam descender yang bisa digunakan, yaitu :

-Capstand, ada dua macam: auto stop descender dan simple auto stop descender/ bobin / non auto stop

-Racks, ada dua macam : open dan closed racks figure off eight

4.Figure Of Eight

Whaletail biasa digunakan para caver Australia.

Malion Rapid, ada dua macam :

Delta MR digunakan untuk menyambung dua loop seat harness

Ada dua bentuk :

  • Delta (A) dan semi sirculair (B) malion rapid
  • Oval MR (C) digunakan untuk menyambung Chest Ascender dengan delta MR
  1. Chest Harness, digunakan untuk mengikat chest ascender dengan dada.
  2. Cowstail

Dibuat dengan tali dinamik yang bercabang dengan salah satu cabangnya lebih pendek. Cabang yang pendek digunakan sebagai pengaman saat akan memulai atau selesai melintasi atau berpindah lintasan. Cabang yang panjang digunakan untuk menghubungkan hand ascender dengan tubuh.

  1. Foot Loop

Digunakan sebagai pijakan kaki dan dihubungkan dengan ascender

  1. Kermantel Rope

Menggunakan jenis statis rope yang mempunyai kelenturan 4-8 %

Beberapa macam sistem SRT yang digunakan :

  1. Texas System, menggunakan dua hand ascender yang dihubungkan dengan cowstail yang ujungnya pendek di posisi bawah ditambah foot loop, sedang yang lain di atas dilewatkan ke dalam penyambung chets harness dan dipegang tangan.
  2. Rope Wiker System, menggunakan tiga buah gibbs, satu di ikatkan di pundak, satu di tengah dengan tambahan foot loop dan satu lagi dikaitkan langsung di kaki.
  3. Michele System, seperti Texas System hanya ditambah chest box pada chest harness, dan ascender atas ditambah foot loop.
  4. Floating Cam system, menggunakan hand ascender yang dihubungkan cowstail dan foot loop, foot ascender dihubungkan cowstail dan dikaitkan di kai dan meggunakan chest box.
  5. Jummar System, menggunakan dua ascender yang dihubungkan dengan cowstail dan foot loop, dipegangdi kedua tangan, tali dilewatkan di penghubung chest ascender.
  6. Frog Rig System,

Frog Rig System

Sistem ini sering disebut sit and stand sistem karena saat meniti (memanjat) tali ini gerakannya seperti orang berdiri dan duduk. Sampai saat ini sistem ini yang banyak digunakan karena kenyamanan, keamanan dan kecepatannya.

Dalam sistem ini digunakan seat harness yang dihubungkan dengan delta MR, yang di dalamnya dirangkaikan peralatan lainnya. Urutan paling kiri cowstail, oval MR yang terhubung dengan chest ascender, lalu oval carabiner screw gate yang dihubungkan dengan descender, diikuti dengan carabiner non screw gate yang berfungsi sebagai pengatur laju kecepatantali pada saat descending. Ujung cowstail panjang dihubungkan dengan delta carabiner, dirangkaikan dengan hand ascender dan foot loop. Chest escender dikaitkan ke dada dengan menggunakan chest harness.

Descending

Teknik menuruni tali pada Frog Rig System biasanya menggunakan descender simple top maupun auto stop. Untuk penggunaan descender simple top harus ditambah carabiner non screw gate ( carabiner friksi ) di samping kanannya yang berfungsi untuk mengatur laju gerak tali pada saat kita turun. Pada saat akan menuruni lintasan, berhenti di tengah lintasan ataupun melalui suatu bentuk lintasan, desender harus selalu berada pada keadaan lock. System Frog Rig tidak mengutamakan kecepatan pada saat descending tetapi mengutamaklan keamanan dan kenyamanan.

Ascending

Untuk meniti tali ke atas, pada Frog Rig System menggunakan hand ascender yang dihubungkan cowstail ujung panjang, dirangkaikan dengan foott loop dan sebuah chest ascender (croll/basic) yang dikaitkan ke dada dengan chest harness. Cowstyail dan foot loop sebaiknya dijadikan personal equipmen karena panjangnya disesuaikan dengan pemakainya. Kesesuian panajang foot loopdancowstail dengan panjang kaki dan tangan pemakainya akan mempengaruhi penghematan tenaga pada saat ascending. Gerakan dan pembagian tenaga antara kaki dan tangan yang benar akan mempengaruhi ketahanan seseorang pada saat menaiki pitch-pitch yang panjang.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s