PENGEMBARAAN AIR ( SUSUR PANTAI )

MENYUSUR SURGA TERSEMBUNYI GUNUNG KIDUL

 

Gunung Kidul yang letaknya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini mempunyai pesona alam yang luar biasa. Tak heran jika kami memilih kegiatan pengembaraan divisi air yaitu susur pantai ini  di pantai yang berkawasan Gunung Kidul. Kegiatan susur pantai memang sudah lama  di PMPA Gopala Valentara biasanya kegiatan ini diisi dengan bersih-bersih pantai, dan wawancara ke penduduk-penduduk sekitar. Tanggal 27 Mei 2016 kami memulai perjalanan dari Solo dengan menaiki bus dari Terminal Tirtonadi dengan harga Rp 15.000/orang dan sampai di Terminal Giwangan, karena waktu sudah sore tidak ada bus untuk ke Terminal Wonosari. Akhirnya kami mencari tumpangan untuk sampai ke Terminal Wonosari dan bermalam disana. Keesokannya dari Terminal Wonosari kami menyewa mobil untuk sampai ke Pantai Siung dengan harga Rp 25.000/orang. Setelah sampai di Pantai Siung, kami disambut dengan pohon kelapa yang melambai-lambai dan ombak yang berkejar-kejaran ke tepi pantai, tetapi semua itu  tak mampu menahan teriknya matahari yang mulai menyengat kekulit. Hal itu tidak membuat kami patah semangat untuk menyusuri pantai.

IMG_0907
Suasana senja di pantai tanpa nama

Perjalanan kami dimulai dari Pantai Siung. Salah satu pantai yang menyimpan potensi alam yang luar biasa adalah Pantai Siung. Pantai Siung merupakan pantai yang tidak asing bagi para pemanjat dari dalam maupun luar negri karna pantai ini merupakan surga bagi para pemanjat. Di kawasan panjat tebing tersebut terdapat sekitar 250 jalur untuk pemanjatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Sehingga pantai ini mendapat julukan sebagai “The best rock climbing site in Jogjakarta”. Harga tiket masuk ke kawasan Pantai Siung sebesar Rp 5.000/orang.

Disebelah Pantai Siung terdapat Pantai Nglambor yang terkenal mempunyai karang yang berbentuk kura-kura raksasa yang dianggap mampu memecahkan ombak dari Samudera Hindia sehingga ombak tak terlalu keras memukul bibir pantai. Tak heran pantai ini dapat dijadikan destinasi untuk snorkeling. Pantai ini juga merupakan daerah budidaya beberapa jenis ikan serta lokasi konservasi terumbu karang dan biota laut lainnya. Penduduk sekitar pantai juga merencanakan ingin membuat flying fox. Tetapi masih dirundingkan oleh pihak-pihak lain. Selain Pantai Nglambor, ada juga pantai yang dapat dijadikan untuk snorkeling  yaitu Pantai Sadranan.

Salah satu tanjakan ekstrem menuju pantai selanjutnya
img_0840
Beristirahat di perkebunan warga sekitar pantai Siung

Di sebelah barat Pantai Nglambor ada Pantai Jogan, lalu Pantai Timang. Pantai Timang ini memiliki potensi wisata yaitu gondola atau disebut juga kereta gantung yang terbuat dari kayu yang dirangkai dengan tali tambang plastik sehingga dapat menopang berat badan yang selanjutnya nanti akan ditarik oleh beberapa orang dan berakhir di batu yang cukup besar berdiri kokoh di pinggir pantai yang disebut Pulau Timang. Penduduk setempat sering menggunakan kereta gantung untuk menuju ke Pulau Timang untuk mencari hasil laut, hasil laut yang banyak terdapat disana yaitu lobster dan ikan sama halnya dengan Pantai Seruni. Selain bermata pencaharian nelayan penduduk juga berladang yaitu padi, jagung, ketela dan kacang.

Setelah perjalan ke Pantai Timang kami berlanjut ke Pantai Ngetun, Pantai Cluakan, dan Pantai Seruni. Pantai Seruni  ini termasuk pantai yang masih baru karena baru dibuka 2 tahun yang lalu. Meskipun termasuk golongan pantai baru pengunjung ramai mendatangi pantai ini. Di sebelah Pantai Seruni  terdapat Pantai Watu Nene. Pantai  Watu Nene ini masih sangat tersembunyi oleh karena itu akses menuju pantai ini masih sangat sulit karena harus melewati Pantai Seruni terlebih dahulu lalu berjalan kaki melewati jalan setapak yang menghubungkan Pantai Watu Nene dengan Pantai Seruni. Pantai Watu Nene ini sering disebut sebagai Pantai Dreamlandnya Jogjakarta karena mempunyai kemiripan dengan Pantai Dreamland yang terdapat di Bali yang memiliki pasir pantai berwarna putih dan dikelilingi oleh tebing karst yang cukup tinggi. Kondisi  Pantai Watu Nene masih sangat alami dan belum terjamah oleh manusia. Disebelah Pantai Watu Nene terdapat Pantai Kajar, Pantai Dawud, Pantai Pok Tunggal, Pantai Watu Lawang, Pantai Tenggole yang terkenal dengan tambak bandengnya dan Pantai Sawal, tak kalah pula dengan Pantai Tenggole, Pantai Somandeng juga terkenal dengan tambak udangnya.

img_0867
Berteduh dibawah tebing Pantai Pok Tunggal

Dari Pantai Somandeng kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sundak, Pantai Sundak ternyata memiliki sejarah yang unik sebelumnya Pantai Sundak memiliki nama Wedibedah karena ada perkelahian antara asu (anjing) dan landak yang terjadi di Gua yang menjadi ciri khas Pantai Sundak sekarang. Lalu Wedibedah berubah nama menjadi Sundak singkatan dari asu (anjing) dan landak. Setelah Pantai Sundak terdapat Pantai Ngandong, Pantai Sadranan, Pantai Krakal, Pantai Batuen, Pantai Watu Kodok, Pantai Ngrumput, Pantai Drini, Pantai Watu Kodok, Pantai Sanglen, Pantai Sepanjang, Pantai Kukup, dan Pantai Baron.

Pantai Baron dikenal sebagai tempat untuk para nelayan berlayar dan mencari ikan karena terdapat kapal-kapal yang menepi dipinggiran pantai. Selain ikan juga terdapat jenis hewan laut yaitu udang, lobster dll. Disebelah timur pantai terdapat sebuah menara putih dekat jurang yang berada tepat di puncak bukit karang. Mercusuar ini baru dibangun tahun 2014 dan didirikan untuk mengganti mercusuar yang sudah lama. Fungsinya sebagai pemandu kapal yang melintas. Tanggal 30 Mei 2016 di Pantai Baron ini kegiatan susur pantai kami berakhir, kami merasa kecewa karna banyak sekali pantai yang kami telusuri terdapat sampah-sampah yang tersapu ombak dan berakhir di pinggir pantai yang diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggungjawab yang membuat bumi ini tidak mempesona kembali.

Dari perjalanan ini kami mendapatkan banyak pelajaran, salah satunya yaitu belajar menyayangi, serta menjaga alam ini agar tetap alami. Bahwa sesungguhnya kita tidak diwarisi bumi ini dari nenek moyang kita, tetapi kita meminjam bumi ini dari anak cucu kita. Oleh karena itu kembalikan bumi ini secara utuh agar anak cucu kita dapat menikmati keindahan bumi ini.

Oleh: Tamara Adita Putri, NRA. GV-286/XXXII

img_0886
Para penyusur pantai GOVA
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s