MENGGAPAI SALAH SATU ATAP DUNIA

MENGGAPAI SALAH SATU ATAP DUNIA

21 HARI SOLO TRACKING DI PEGUNUNGAN HIMALAYA

Ada banyak gunung yang membuat saya jatuh cinta, tetapi Everest memang berbeda. Ia merupakan perpaduan antara kecantikan budaya dan keliaran khas gunung. Ketika tawaran dan kesempatan sekali seumur hidup untuk menginjakkan kaki di sana justru dating dari isteri saya sendiri, maka saya tak berpikir dua kali. Toh, “’Everest” sejatinya bukan hal asing bagi kami berdua, karena Azzam Prasraya Everest adalah nama anak lelaki kami.

Dengan persiapan kurang dari 2 bulan, maka latihan fisik menjadi focus utama. Saya menyadari,  kondisi fisik sudah jauh menurun. Karena itu konsep pendakian dirancang menggunakan metode ultra light hiking, dengan beban pendakian seminimal mungkin, tanpa melupakan safety procedure. Bobot ransel 30 liter saya tidak lebih dari 7 kilogram, dengan semua perlengkapan standar pendakian di dalamnya. Bagaimana dengan perlengkapan berkemah? Tak perlu khawatir, ada lodge (semacam rumah penduduk) sebagai tempat menginap. Jadi kita tidak perlu repot membawa tenda. Konsep ini juga dapat kita temukan di gunung kinabalu, malaysia, meski di Nepal fasilitasnya masih sangat minimalis dan tradisional.

DCIM101GOPROG2601870.
Lodge penduduk lokal

Singkat cerita, 6 Mei 2016 saya terbang ke Kathmandu, ibukota Nepal setelah transit dan menginap di bandara Kuala Lumpur. Untuk menghemat biaya, selain mendaki seorang diri tanpa guide dan porter, saya juga mengurus perizinan sendiri di Nepal Tourism Board. Ada duaizin yang harus dimiliki, yaitu Trekkers Information Management System (TIMS) dan Sagarmatha National Park Entry Permit. Alhamdulillah, izin dan tiket pesawat menuju Lukla, titik start pendakian dapat dibereskan dalam satu hari.

Pagi, 9 Mei 2016, pesawat berpenumpang 10 orang yang saya naiki meliuk-liuk di celah pegunungan. Si pilot bule sibuk approaching sebelum mendarat di Tenzing Hillary Airport, salah satu bandara paling berbahaya di dunia. Di ketinggian 2.860 mdpl inilah pendakian saya dimulai.

DCIM101GOPROG2791946.
Desa Surke, tempat para pendaki bersinggah

Selama berjalan kaki selama 21 hari itu saya berencana menggapai beberapa poin ketinggian, diantaranya 3 basecamp (amadablam 4600 mdpl, island peak 4970 mdpl, dan Everest 5364 mdpl), 3 pass/lembah (kongma la pass 5535 mdpl, chola pass 5420 mdpl, danrenjo la pass 5360 mdpl),Kalapatthar 5550 mdpl, GokyoRi Peak 5360 mdpl, GokyoLake 4700 mdpl, serta menyusuri jalan kembali melaluijalur klasik yang pertama dirintis oleh Sir Edmund Hillary danTenzing Norgay dari desa Jiri. Di titik-titik itulah, slayer gova merah kebanggaan berhasil dikibarkan.

DCIM100GOPROG1071072.
Slayer merah GOVA di Khumbu Glacier

Sebuah insiden terjadi di ketinggian 4400 mdpl, pusing yang saya rasakan selama beberapa hari mengalami puncaknya.Tengah malam saya terjaga dari tidur dan memuntahkan seluruh isi perut. Oke fix, saya terserang penyakit ketinggian akibat menipisnya kadar oksigen. Seorang Sherpa yang saya temui menyarankan saya agar turun karena serangan mountain sickness bias berakibat fatal. Saya memilih bertahan, meski seminggu penuh harus akrab dengan pil anti sakit kepala. Target menuju Kongma La Pass direvisi, aklimatisasi ditambah. Saya memilih jalur memutar gunung dimana penambahan ketinggiannya bias lebih smooth, meski berdampak gagalnya target satu dari tiga pass.

Ini adalah solo trekking saya yang kelima setelah gunung bawakaraeng, sibayak, bukitkelam, dan one day trekking di gunung lembu, parang dan bongkok. Tetapi sensasi kali ini sangat berbeda, mungkin karena gunungnya bersalju dan berada di negeri orang. Rasa lelah, dingin, panas, takut, bosan, senang, kesepian, bercampur aduk menjadi satu. Bertemu pendaki lain, penduduk bahkan kerbau gunung sering kali menjadi penghibur setelah berjam-jam berjalan sendiri. Menyanyikan mars Gova juga saya lakukan.

DCIM100GOPROG0070404.
Suspension bridge, di daerah sekitar desa Surke

Akhirnya, sore hari tepat di hari ke 21 pendakian, saya tiba di garis finish bernama Salleri. Sebuah bus berukuran sedang telah menunggu di jalanan berdebu tak beraspal. Bus baru berangkat subuh dan akan menempuh perjalanan selama 10 jam menuju Katmandu. Sepanjang jalan, rasa senang dan sedih berkecamuk. Sedih karena harus meninggalkan Everest di Nepal. Tetapi di sisi lain juga senang akan segera bercengkerama dengan anak lelakiku Everest di rumah setelah meninggalkannya selama 29 hari. Namun itulah tujuan kita para pengembara mendaki, pergi untuk kembali. Semoga suatu hari lascar Gopala Valentara dapat kembali menjejakkan kakinya disini.

Oleh: Zamrony (Anggota Luar Biasa), NRA. GV-175/XVIII

DCIM100GOPROG0870851.
Salah satu puncak pegunungan Himalaya, yaitu Kalapathar
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s