KAMU PECINTA ALAM ATAU PENIKMAT ALAM?

KAMU PECINTA ALAM ATAU PENIKMAT ALAM?

KENALI PERBEDAAN “MENCINTAI” DAN “MENIKMATI”

Akhir-akhir ini dunia kepecintaalaman sering dilanda kabar duka. Mulai dari yang tersesat saat melakukan pendakian, hingga tewasnya pendaki karena tercebur ke kawah Merapi saat akan berselfie di puncak Garudanya. Memang, aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu kegiatan yang langka. Artinya, tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya), melainkan telah dilakukan oleh kalangan umum. Namun, bukan berarti kita bisa beranggapan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki dasar pengetahuan teoritis.

Siapakah pecinta alam itu? pecinta alam adalah orang yang berkegiatan di alam bebas yang selain menikmati keindahannya, juga tetap menjaga dan melestarikan lingkungan alam tersebut. Kalau yang namanya sudah cinta, ia pasti rela melakukan segala hal, termasuk menjaga alam tersebut agar tetap lestari sehingga bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak, yang juga kita cintai. Lalu, apa bedanya dengan penikmat alam? Tentu berbeda, karena penikmat alam hanya berkegiatan di alam sesuka hati, yang penting enjoy. Misalkan saat melakukan pendakian, ia membuang sampah sembarangan, mencorat-coret batu dengan tulisan yang tidak bermutu, merusak tanaman dan pohon, dan lain sebagainya.

renungan7
Tumpukan sampah di Ranu Kumbolo, G. Semeru

Selain itu perbedaan lainnya adalah pada tujuan mereka berkegiatan, misal saat mendaki gunung. Seorang pecinta alam selain mendaki gunung untuk refreshing dari rutinitas, ia juga mempunyai jiwa untuk menjaga dan melestarikan alam itu. Hal ini bisa menimbulkan simbiosis mutualisme antara pecinta alam dengan alam itu sendiri. Sedangkan penikmat alam, biasanya hanya bertujuan untuk bisa sampai dipuncak gunung, berfoto lalu turun untuk dipamerkan ke teman-temannya atau media sosial, tanpa mempedulikan apa yang dilakukannya selama di alam. Dan yang paling membedakan ialah, persiapan mereka sebelum melakukan kegiatan. Seorang pecinta alam yang baik akan menyiapkan segala sesuatunya sesuai standar perjalanan, mulai dari fisik dan mental, peralatan pribadi yang ada di tubuh, obat-obatan, alat-alat pendakian, hingga persiapan kemungkinan terburuk yang memaksanya untuk mengerahkan kemampuan survival (bertahan hidup). Sedangkan seorang penikmat alam, ia biasanya tak begitu memikirkan tentang hal tersebut, asalkan sampai ke puncak ia sudah senang. Ironisnya mereka yang melupakan hal hal tersebut tapi malah tak pernah lupa membawa kertas, spidol dan tentunya kamera untuk mengabadikan momen kebanggaan mereka sebagai ajang pamer.

Akibatnya sering terjadi hal yang tidak diinginkan karena perbuatan mereka yang sembrono dan hanya bermodal nekat tersebut, misalnya adalah kasus tersesatnya pendaki di gunung Lawu, Merbabu, Sindoro dan Semeru baru-baru ini. Bahkan terjatuhnya pendaki ke kawah gunung Merapi hanya karena ia ingin berfoto selfie. Hal itu terjadi bukan karena salah alamnya, namun karena kecerobohan manusia tersebut yang tidak melakukan perjalanan sesuai dengan standar dan prosedur yang baik. Memang, mengabadikan momen itu penting, namun keselamatan lebih penting pastinya. Karena kita juga harus mengingat bahwa orang yang kita sayangi dan orang yang menyayangi kita sedang menunggu kita untuk pulang dalam keadaan yang utuh, bukan pulang dalam tubuh kaku yang tinggal menyisakan nama.

Maka, sebagai manusia yang berakal dan berakhlak, sudah seharusnya saat akan melakukan kegiatan alam bebas, harus mempersiapkan segalanya dengan matang, baik dari alat, perencanaan perjalanan, dan juga fisik. Segalanya harus dipenuhi demi keselamatan dan kenyamanan pribadi kita masing-masing. Dan tetapkan tujuan dengan baik bahwa kita melakukan kegiatan seperti alam bebas adalah sebagai rasa syukur terhadap anugerah Tuhan YME atas apa yang telah Ia ciptakan. Juga jangan lupa bahwa kita juga wajib menjaga alam ciptaan-Nya, bukan sekedar menikmati tanpa memperhatikan kelestariannya. Dan yang terakhir, bahwa mengabadikan momen saat kegiatan alam bebas memang penting,  namun jangan lupakan keselamatan diri kita sendiri hanya karena keasyikan berfoto untuk eksis di antara teman dan di sosial media. Salam Lestari.

Oleh: Gilang Bima Sakti, NRA. GV-277/XXXI

pengembaraan-surpan-5
Bawa sampahmu pulang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s