ANDA TIDAK SIAP MENDAKI? PULANGLAH!

SAFETY FIRST!

Keprihatinan saya ini bermula saat saya melakukan pendakian ke Gunung Lawu via Cemara Sewu, Jawa Timur, tanggal 8-9 Juli 2017 lalu. Persiapan sudah saya lakukan semenjak H-3 perjalanan. Mulai dari berbagai macam logistik, perlengkapan kelompok, perlengkapan pribadi, maupun pakaian yang akan saya kenakan saat perjalanan sudah saya sesuaikan dengan standar operiasional prosedur (SOP) yang ada. Teknik packing pun sudah saya atur sedemikian rupa sehingga carrier yang saya bawa bisa melekat di punggung dengan nyaman. Setelah perlengkapan, fisik, dan mental disiapkan, saya pun berangkat.

IMG_0210.JPG
Perjalanan menuju puncak Gunung Lawu

Dalam perjalanan, saya melihat satu rombongan yang saya rasa hanya modal nekat untuk mendaki Lawu. Dengan celana jeans super ketat dan jaket kulit, sandal jepit, bahkan sarung pun menjadi pakaian yang dikenakan. Belum lagi dengan bermodalkan daypack kecil, sehingga barang-barang seperti dome, alat masak, sleeping bag, dan barang-barang berat lainnya harus ditenteng karena tak cukup untuk dipacking. Sesampainya di pos 2, saya kembali melihat rombongan beberapa orang yang mengenakan pakaian serupa dengan barang-barang yang digantung diluar carrier. Setelah saya mencapai pos IV, saya pun melihat ada orang yang mendirikan tempat camp di jalur pendakian di tanah miring dan sempit. Belum lagi jurang ada persis di samping dome tersebut. Setelah mencapai pos mata air Sendang Drajat, kami pun mendirikan camp. Beberapa saat kemudian, ada orang yang meminta bantuan pada rombongan kami karena mereka tak tahu cara mendirikan dome. Tak lama setelahnya, pendaki dari rombongan lain pun meminta obat pada kami, karena salah satu temannya mengalami sakit kepala dan tidak membawa obat. Belum lagi, keesokan harinya saat kami hendak packing untuk pulang, sampah-sampah plastik berserakan di area camp Sendang Drajat.

bio 7.jpg
Peralatan untuk mendaki

Pertanyaannya adalah bagaimana jika terjadi badai saat mengenakan pakaian asal-asalan tersebut? Bagaimana jika terjadi luka luar akibat teknik packingan yang salah? Bagaimana jika terjadi sambaran petir, serangan hewan buas, maupun terpaan angin kencang saat kita membuat camp di sembarang tempat? Bagaimana jika sakit yang kita derita kambuh dan kita tidak membawa obat? Bagaimana jika gunung yang dulunya indah, sekarang dipenuhi bau menyengat sampah?

Miris memang. Semenjak media sosial booming di kalangan remaja, gunung pun menjadi salah satu tempat favorit untuk sekedar eksis di dunia maya. Memang tidak salah jika mendaki gunung menjadi hobi baru yang mulai ditekuni berbagai kalangan. Namun, apakah mendaki gunung cukup hanya dengan modal nekat, tanpa modal perlengkapan dan pengetahuan yang memadai? Gunung adalah alam bebas. Segala sesuatu sangat mungkin terjadi disana, dan apa yang akan terjadi tak mungkin bisa diprediksi dengan mudah. Jelas, nyawa adalah taruhan saat kita mendaki gunung. Tapi yang saya rasakan tidak semua pendaki gunung menghargai nyawa, bahkan nyawa mereka sendiri.

Sudah selayaknya alat-alat yang dibawa haruslah disesuaikan dengan tempat yang hendak dituju. Jika memang ingin mendaki, minimal harus membawa perlengkapan pribadi, senter, carrier, matras, dome, alat masak, dan logistik. Memang, saya paham betul, tidak semua pendaki adalah mereka yang berasal dari kalangan orang yang berduit. Namun, apakah biaya untuk membeli peralatan mendaki gunung; atau sekedar biaya untuk menyewa barang-barang tersebut lebih murah dibandingkan biaya berobat? Banyak kasus kecelakaan yang dialami para pendaki karena mereka memang mendaki tanpa SOP. Apakah kalian mau menjadi korban karena kebodohan kalian sendiri?

packing
Teknik packing dalam satu carrier

Maka, ilmu manajemen perjalanan lah yang harus benar-benar dipahami sebelum melakukan perjalanan ke alam bebas. Dalam hal mendaki, banyak hal yang harus dipersiapkan untuk keamanan dan kenyamanan kita. Mulai dari perlengkapan pribadi dan kelompok, pakaian yang dikenakan, pengetahuan dasar mengenai pertolongan pertama, pengetahuan mengenai medan yang akan kita tuju, dan lain-lain harus dipelajari sepenuhnya. Toh, jaman sekarang internet sudah dikenal betul oleh sebagian besar masyarakat dunia. Semua ilmu yang harus disiapkan ada di dunia maya, jika kita mau meluangkan waktu untuk mencari dan mempelajarinya. Saya yakin, walaupun persiapannya memang sedikit merepotkan, namun pendakian yang ditempuh tentunya akan lebih aman dan nyaman. Mendaki gunung dan menggapai puncak bukan tujuan utama kita, kawan, karena pulang ke rumah dengan selamat adalah tujuan yang sesungguhnya. Jangan jadi korban selanjutnya karena kebodohan kita sendiri!

YDXJ5875.jpg
Keindahan awan di puncak Gunung Lawu

Oleh: Aditya Putra, GV-271/XXX

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s