PEMETAAN GOA

APA SIH PENTINGNYA PEMETAAN GOA?

Banyak yang tidak mengerti tentang apa itu pentingnya sebuah pemetaan di dalam goa, khususnya bagi orang awam yang hanya mengetahui keindahan goa sebagai empat wisata. Kata pemetaan goa sudah sangatfamiliar untuk para caver (sebutan untung orang yang menyukai petualangan di dalam goa). Kegiatan yang tak kalah penting dalam melakukan penelusuran goa adalah pemetaan goa. Pemetaan goa sangat bermanfaat bagi kegiatan penelusuran goa, baik untuk tujuan olahraga maupun untuk eksplorasi, karena peta goa yang dihasilkan merupakan data yang menunjang kegiatan selanjutnya.

DIKLANTAP CAVING
Doc. Gopala Valentara Diklantap Caving

Kegiatan survey dan pemetaan dapat dibagi menjadi dua jenis kegiatan yaitu survey dan pemetaan goa. Kegiatan survey meliputi pengumpulan data, pengamatan secara kualitatif terhadap obyek-obyek multitematik (air, flora, fauna dan cuaca goa dll) dan deskripsi kasar konfigurasi lorong goa.  Sedangkan pemetaan meliputi kegiatan perhitungan, evaluasi dan pengeplotan data-data hasil survey dan observasi kedalam bidang kertas dan penyajian data berupa peta goa. Dari sini bisa diambil definisi dari peta yaitu bahwa peta adalah suatu gambaran dua dimensi dengan skala lebih kecil, dari suatu bidang tiga dimensi yang mempunyai batas-batas tertentu. Sedangkan peta goa adalah suatu gambaran proyeksi dengan skala lebih kecil dari suatu gua.

Adapun tujuan dan manfaat dibuatnya peta gua adalah :

  • Merupakan bukti otentik bagi penelusur gua, sebagai tim atau penelusur pertama dari gua tersebut.
  • Sebagai alat bantu bagi para peneliti untuk meneliti biospeleologi, hidrologi, atau disiplin lain yang berkaitan dengan speleologi.
  • Untuk mencari hubungan atau korelasi dengan gua-gua disekitarnya.
  • Untuk memudahkan dalam melakukan pertolongan atau rescue.
  • Kepentingan pertahanan dan keamanan.
  • Untuk memudahkan perencanaan pengembangan gua apabila gua tersebut dijadikan sebagai gua wisata.

JENIS PETA GUA

Peta gua dapat diganbarkan sebagai :

  1. Plan Section

Adalah gambar peta gua tampak dari atas. Yang ditampilkan adalah sudut belokan, letak ornamen, jenisnya dan bentuk lorong gua atau arahnya.

  1. Extended Section

Adalah peta gua tampak samping (gua dipotong secara vertikal) tanpa adanya proyeksi. Yang ditonjolkan dalam penggambarannya adalah perubahan elevasi lorong.

  1. Projected Section

Adalah peta gua tampak samping tetapi merupakan hasil proyeksi dari plan section. Fungsinya untuk menampilkan control geologis dari bentukan sebuah goa dan kesamaan bentuknya.

386226082_f7f2b0fbc5
Contoh peta goa

Peta gua tiga dimensi/perspektif.

LAYOUT PETA

Layout peta meruapakan penataan atau peletakan informasi-informasi pendukung yang menerangkan tentang goa yang bersangkutan sehingga goa tersebut mempunyai informasi yang mudah dibaca atau disampaikan kepada orang awam sekalipun. Peta goa termasuk jenis peta tematik sehingga penempatan unsur-unsur peta tersebut tidak baku asalkan memenuhi kaidah kartografis. Namun, peta goa mempunyai keistimewaan dalam layoutnya, yaitu peta goa tidak perlu dilengkapi dengan legenda karena seluruh bentuk simbol dan perlambangan yang ada dalam peta sudah distandartkan secara internasional. Dalam suatu peta gua dilengkapi :

Nama Gua

Nama goa alangkah baiknya apabila sesuai dengan nama goa yang diberikan oleh penduduk setempat. Nama goa ini juga bisa digunakan daerah yang khas didekat goa, sebagai misal nama bukit/nama tempat/nama sungai. Klaim terhadap nama goa harap dipertimbangkan kemungkinan dampaknya yang mungkin akan muncul dikemudian hari.

Grade Peta

Grade peta yang dicantumkan sesuai dengan tingkat ketelitian survei pemetaan yang dilakukan.

Lokasi Gua

Lokasi goa bisa berupa :

  • Sistem proyeksi dalam menentukan posisi dan letak geografis suatu goa. Misalnya Goa Bribin (11038’ BT & 8o 5’ LS)
  • Sistem grid untuk menentukan posisi goa dalam suatu grid proyeksi yang digunakan. Dapat bersifat lokal, misalnya Luweng Daren (GR 742998) dan dapat pula bersifat nasional misalnya Goa Semuluh (x = 4644000mT y = 9113900mS)
  • Letak administrasi untuk menentukan letak geografis dalam kaitannya terhadap pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah setempat. Misalnya luweng Sapen, Desa Mudal, Kec. Rongkop, Kab. Gunungkidul, DIY.

Orientasi

Menunjukan arah utara magnetik dan tahun saat survei dilakukan. Arah utara tidak harus menghadap atas, disesuaikan dengan ukuran kertas dan gambar peta goanya. Tahun pembuatan ditulis karena tidak sepanjang tahun arah utara magnetis tetap atau sama.

Skala Peta (grafis, fraksi/angka)

  • Skala fraksi, contoh skala 1 : 200 artinya 1 cm di peta mewakili 200 cm di lapangan
  • Skala verbal, contohnya 1 = 10 km.
  • Skala grafis, perbandingan jarak horisontal sesungguhnya dengan jarak dalam peta yang ditunjukan dengan garis.contoh :

artinya setiap balok mewakili 6 km.

Skala grafis ini mempunyai keuntungan apabila peta diperbesar maka skala peta grafis akan ikut membesar sehingga kesalahan skala peta bisa diatasi. Oleh karena itu, disarankan untuk memakai dua skala yaitu skala fraksi dan skala grafis.

Cross Section

Adalah penampang melintang lorong, digambar sesuai skala. Lebih menerangkan pada bentuk lorong.

Simbol-Simbol

Simbol ini mewakili kondisi, bentukan, ornamen, keadaan goa.

Keterangan

Tepi Peta

  • Waktu survey, tanggal, bulan, tahun, nama kegiatan contoh Eksplorasi Goa IV Sekber PPA DIY, Panggang, 10 – 17 Agustus 2003.
  • Surveyor, atau bisa juga team.
  • Total panjang dan kedalaman goa.
Contoh Worksheet Pengambilan Data Lapangan.jpg
conth tabel pengambilan data paa pemetaan goa

STANDART GRADE DAN KLASIFIKASI PETA GUA

Grade merupakan tingkat, yaitu tingkat ketelitian berdasarkan peralatan yang digunakan sehingga mempengaruhi penggambaran peta. Grade atau derajat ketelitian peta goa ditentukan oleh ketelitian centerline (garis arah lorong) dan detail lorong goa (penampang pada setiap titik sepanjang lorong). Adapun kriteria grade sesuai dengan kegunaannya adalah :

No Tingkat Kisaran Grade Tujuan Kegunaan
1 Rendah 1 – 2 Deskripsi awal Keterangan dasar
2 Sedang 3 – 4 Aplikasi umum Manfaat tambahan
3 Tinggi 5 – 7 Aplikasi rinci Kegunaan rinci

Menurut BCRA (British Cave Research Association) standart grade peta gua dibagi menjadi 6 grade ditambah 1 grade khusus yaitu  (dianut oleh Indonesia) :

Grade Center Line BCRA

Catatan : Organisasi Caving, dan lainnya yang mereproduksi table 1, 2, 3 dalam publikasi, ijin dari BCRA untuk mereproduksi ketiga table tersebut tidak diperlukan

Grade 1 : Hanya membuat sketsa dengan akurasi rendah, tanpa membuat pengukuran.

Grade 2 : Digunakan jika diperlukan, untuk menggambarkan perantaraan dalam akurasi antara grade 1 dengan grade 3.

Grade 3 : Survei magnetic kasar. Sudut horisontal dan sudut vertikal diukur dengan peralatan, derajad kesalahan + 2,5 derajad. Alat ukur jarak dengan kesalahan + 50 cm, kesalahan posisi stasiun kurang dari 50 cm.

Grade 4 : Digunakan jika diperlukan untuk menggambarkan survey tidak sampai grade 5 tetapi lebih akurat daripada grade 3.

Grade 5 :Survei dengan peralatan magnetic. Akurasi sudut horisontal dan vertikal + 1 derajad. Akurasi pengukuran jarak + 10 cm. Kesalahan posisi stasiun kurang dari 10 cm.

Grade 6 : Survei dilakukan dengan lebih akurat dari grade 5.

Grade X : Survei berdasarkan diutamakan menggunakan theodolit sebagai pengganti kompas.

Grade diatas merupakan ikhtisar dan ditujukan sebagai peringatan bahwa grade survey yang ditunjukan diatas harus dibaca bersama-sama dengan penambahan keterangan dalam-dalam bukusurveying cave. Untuk lebih jelasnya lihat keterangan dibawah.

  • Pada semua kasus harus mengikuti tujuan dari definisi dan tidak hanya yang terbaca saja.
  • Batas akurasi, definisinya adalah artinya adalah pendekatan hasil terhadap harga sebenarnya, tidak boleh dikacaukan dengan pengertian presisi yang mana pendekatan jumlah dari hasil ulangan masing-masing, dengan mengesampingkan keakuratannya.
  • Untuk grade 3 perlu menggunakan klinometer pada lorong yang mempunyai kemiringan.
  • Peralatan perlu dikalibrasi terlebih dahulu untuk mencapai grade 5.
  • Untuk grade 6 perlu menggunakan kompas yang adapat melewati batas akurasi, misalnya + ½ derajad, begitu pula untuk klinometer. Keakuratan jarak dan posisi stasiun kurang dari 2,5 cm dan perlu adanya tripod untuk kedudukan peralatan magnetik (kompas dan klinometer).
  • Untuk grade X harus dimasukan dalam catatan yaitu gambar dan tipe instrument serta teknik yang dipakai. Bersamaan dengan perkiraan keakuratan dibanding dengan grade 3, 5, atau 6.
  • Grade 2 dan 4 dipakai saat survey dilaksanakan menemui kondisi yang menyebabkan survey dengan tingkat yang lebih tinggi terhalangi, dan tidak memungkinkan untuk dilaksanakan survey lagi dimasa mendatang.
  • Publikasi ulang tabel diatas harus selalu disertai dengan catatan ini.

Sumber : Surveying Cave, Bryan Ellis, BCRA, 1975.

Klasifikasi Detail Survey

Klas A : semua detail dibuat berdasarkan hapalan di luar kepala.

Klas B : Detail lorong gua dicatat dalam goa berdasarkan perkiraan.

Klas C : detail lorong diukur di stasiun survey.

Klas D : detail diukur pada stasiun survei dan antar stasiun.

Kombinasi Grade dan Klasifikasi yang Direkomendasikan

Grade 1A

Grade 3B atau 3C

Grade 5C atau 5D

Grade 6D

Grade XB, XC, atau XD

Derajad pengukuran ini harus diusahakan, sejak dua stasiun pertama, karena kesalahan akan bersifat kumulatif, makin jauh dari titik awal, semakin besar pula kesalahan yang terjadi.

Catatan khusus :

  • Grade 3, Direkomendasikan jika memakai alat ukur magnetis kasar, misal kompas saku (Suunto MC 1 mirrors) Dan klinometer swakarya. Jarak dapat diukur dengan pita ukur.
  • Grade 5, Type survey yang paling banyak dilakukan karena merupakan survey yang cukup akurat dengan waktu yang memungkinkan. Survei direkomendasikan menggunakan leap frog method dan lokasi stasiun menggunakan penanda khusus (kertas fluorosense, atau benda lain yang mudah dilihat, posisinya diletakkan sedemikian sehingga tidak mudah bergeser misal : ditancapkan dalam tanah, ditindih batu,dll)
  • Grade 6, Diguankan oleh para spesialis. Grade ini memenuhi keinginan untuk mendapatkan akurasi tinggi dalam survei. Tripod digunakan untuk kompas dan clinometer untuk meminimalkan kesalahan posisi stasiun.
  • Grade X, Penggunaan grade X pada survei goa, biasanya pada perencanaan usaha-usaha pengembangan atau eksploitasi goa.

PERALATAN PEMETAAN GOA

Secara umum, pembuatan peta goa relatih lebih mudah dibandingkan dengan pemetaan permukaan tanah atau dasar lautan. Oleh karena kondisi didalam goa cukup rumit maka peralatan yang digunakan dalam survey goa haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Dari segi jumlah, peralatannya seminimal mungkin namun serba guna. Setidak-tidaknya yang mudah dibawa, ringan dan tidak membutuhkan tempat yang besar. Hal ini cukup dimengerti karena tingkat kesulitan goa yang beraneka ragam menuntut penyesuaian sarana dan kemampuan yang dimiliki oleh anggota tim dalam melakukan survey tersebut.
  • Dari segi kualitas dan biaya, murah tetapi tahan lama, serta tidak mudah pecah/rusak. Faktor ini dipertimbangkan mengingat efek seprti terjatuh, terbentur, terhimpit dan resiko lainnya.
  • Dari segi waktu da metode, mudah dan cepat dalam perolehan data arah, jarak, luas. Disini kemampuan tim kiranya merupakan faktor yang dominan karena tiap-tiap individu memiliki kemampuan yang berbeda. Untuk itu, kekompakan tim sangat diutamakan dalam kegiatan pemetaan goa ini.

Peralatan pemetaan goa secara khusus terbagi menjadi tiga yaitu :

Alat Ukur

  1. Alat ukur jarak

Alat ukur jarak ini meliputi pita ukur/meteran dengan panjang yang diperlukan berkisar 30 – 50 meter dengan alasan semakin panjang maka semakin besar pula fluktuasi kesalahan yang ditimbulkan oleh alat. Direkomendasikan menggunakan meteran yang terbuat dari campuran fiberglass, karena efek kemulurannya relatif kecil saat diregangkan/diulur. Alat alain bisa menggunakan topofil, relatif mahal harganya.

Pita Ukur.jpg
Roll meter

  1. Pengukur kemiringan

Alat ini berfungsi untuk mengetahui/ mengukur derajad kemiringan atau sudut vertikal suatu lorong goa terhadap garis rata-rata air. Umumnya alat yang diguankan adalah klinometer, abney level bahkan sampai kompas silva. Klinometer yang biasa digunakan Suunto, type PM5/360.

klinometer02.jpg
Klinometer

  1. Pengukur bearing

Alat-alat ini digunakan untuk mengetahui arah lorong goa atau sudut horisontal yang terbentuk dengan arah utara magnetis. Alat yang sering diguanakan adalah kompas : Suunto type K14/360. hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kompas adalah bahwa kompas mudah sekali terpengaruh oleh medan magnet seperti besi, pemantik lampu karbit, aliran listrik pada kabel, senter logam maupun kabel headlamp. Oleh karena itu, diharapakan saat pengukuran jauhkan dari benda-benda yang menimbulkan medan magnet.

images
Kompas

Alat Pencatat

Hal yang harus ditekankan adalah setiap apa yang kita lihat adalah ‘data’. Oleh karena itu, data harus dicatat. Catatan ini akan sangat membantu dan mempengaruhi dalam penggambaran petanya. Oleh karena itu, alat pencatat harus mendukung untuk pelaksanaan tersebut. Alat pencatat harus kuat, tidak mudah basah (tahan air), mudah dibawa/fleksibel. Alat pencatat yang sering digunakan adalah kertas kalkir tahan air, kertas laminating atau kodak trace dan pensil atau OHP marker sebagai alat tulisnya. Alat tulis diusahakan yang tahan air juga. Alat pencatat ini didesain khusus sehingga penggunaannya mudah, seperti pencatat variabel/ data pemetaan dan sisi lain untuk sket.

Alat Tambahan Lainnya.

Alat ukur dan alat pencatat tidaklah berfungsi jika alat tambahan pendukung lainnya tidak ada. Alat tambahan ini meliputi alat penerangan tambahan seperti senter yang tahan air, tongkat ukur atau sering disebut sebagai Yalon. Panjang Jalon ini 2 meter dan tiap panjang 20 cm diselang-seling dengan warna yang berbeda untuk memudahkan dalam pengukuran. Kertas fluorosens untuk membantu dalam pemberian tanda disetiap percabangan, kertas ini akan memancarkan sinar karena efek fluor. Spidol waterproof, untuk menulis pada alat pencatat atau kertas fluorosens. Tas atau kantong dada, berfungsi untuk menyimpan peralatan pemetaan apabila ditemui medan yang sulit. Tas ini sebaiknya dikalungkan dileher. Kamera, jika diperlukan untuk mengabadikan obyek-obyek yang sekiranya diperlukan dalam tampilan pemetaanatau informasi lainnya.

ARAH DAN METODE SURVEY

Metode Survey

  1. Forward Methode

Dimana pembaca alat (shooter) dan pencatat pada stasion pertama seorang lagi sabagai target pada stasiun kedua. Setelah pembacaan selesai pembaca dan pencatat berpindah ke stasiun kedua. Target pindah ke stasiun berikutnya. Dan seterusnya sampai stasiun terakhir. Perpindahan stasiun antara target dan pembaca harus menempati tempat yang sama.

  1. Leap frog Methode

Pembaca alat dan pencatat pada stasiun ke dua, target pada stasiun satu. Setelah pembacaan selesai, target pindah ke stasiun tiga, dilakukan pembacaan. Setelah selesai, pembaca dan pencatat pindah ke stasiun empat, dilakukan pembacaan ke arah target di stasiun tiga. Setelah selesai target pindah ke stasiun lima, pembacaan dilakukan. Pada leap frog method, memiliki keuntungan yaitu lebih akurat dan lebih cepat. Hanya saja harus berhati-hati dalam perhitungan data nanti.

Arah Survey (Pengumpulan Data)

  1. Top to Bottom, pengumpulan data dimulai dari entrance menuju ujung lorong/ dasar dari gua atau sampaistasiun terakhir.
  2. Bottom to Top, pengumpulan data dari ujung lorong/ dasar gua menuju entrance. Jadi merupakan kebalikan dari sistem top to bottom.

Penentuan Titik Stasiun :

Dasar pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan suatu stasiun survey:

  1. Perubahan arah
  2. Perubahan ekstrim bentuk lorong (3 dimensi): belokan, turunan, atap turun, perubahan lebar dinding
  3. Batas pengukuran (30 m)
  4. Perubahan elevasi ekstrim (pitch, climb)
  5. Temuan-temuan penting : biota, ornamen khusus, litologi, dan sebagainya.

Pembagian Team Survey

Idealnya dalam satu tim survey/ pemetaan gua terdiri dari 4 orang, dengan pembagian tugas sebagai berikut:

  • Orang pertama        :               Sebagai pembaca alat-alat ukur, membawa clinometer, kompas, dan meteran.
  • Orang ke dua           :               Sebagai pencatat data pengukuran, diskriptor, cross section (irisan lorong), dan skets perjalanan.
  • Orang ke tiga           :               Sebagai target pengukuran, membawa ujung meteran. Tinggi badan orang pertama dan ketiga ini harus sama, tujuannya mengurangi kesalahan dalam pengukuran sudut elevasi (kemiringan lantai).

  • Orang ke empat      :               Sebagai leader, penentu titik stasiun maupun sebagai pemasang lintasan pada penelusuran gua vertikal.

nah, itulah pentingnya pemetaan serta kompnen yang harus ada pada saat kita melakukan penelusuran goa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s